Rabu, 02 Oktober 2013

Naskah Mandar.


Araang Tie tie


Kerajaan Yang Hilang
Arayang Tie-tie
By Kaco Kendeq Tandiapa

Adegan  1
Mara’dia Tie tie      : Kandi’… Kerajaan kita adalah kerajaan yang besar ,kerajaan yang sangat kaya,banyak kerajaan kerajaan luar yang iri terhadap kita aku sangat bangga akan hal itu.di tambah lagi engkau telah memberiku seorank putri yang cantik rupawan, sungguh lengkap kebahagianku kandi’.
Permaisuri              : iyaa kaka’ demikian pula dengan aku, aku juga, merasa bangga mempunyai seorang suami yang bijak  seperti kaka’. Kaka’… putri kita itu usianya sudah beranjak dewasa, sudah saatnya kita mencarikan seorang pendamping hidup untuknya, hitung-hitung untuk meneruskan garis keturunan kita Kaka’.
Mara’dia tie-tie      : (berpikir) betul juga yang  kandi’ bilang, tapi aku ingin kelak menantuku adalah seorang yang berjiwa ksatria,yang tidak hanya cinta kepada anakku tetapi dia juga cinta terhadap negeri ini kandi’
             Di tengah perbincangan mereka,datag seorang dayang yang menittipkan sebuah surat dari Kerajaan Rantebulahan yang isinya mengundang Maradia Tie-tie untuk menghadiri sebuah pertemuan kenegaraan di negerinya.
Dayang 1                  : Adappangang na Puang.ini ada sebuah surat dari kerajaan Rantebulahan yang di amanatkan kepada saya untuk di sampaikan ke pada Puang Mara’dia.
             Surat tersebut kemudian diterima oleh Permaisuri.
Maradia tie-tie       :  Surat apa itu Kandi’???
Permaisuri              :  Entahlah kaka’, Silakan kaka’ baca.
             Mara’dia Tie-tie kemudian membacanya sembari mengerutkan kening , sejenak kemudian permaisuri melanjutkan pertanyaan.
Permaisuri              :  Apa isi surat itu kaka’ ???
Maradia tie-tie       :  Surat ini adalah undangan dari Penguasa Rantebulahan untukku agar menghadiri acara kenegaraan di negeri mereka, tapi kandi’ Kerajaan kita sedang dalm peperangan dengan Kerajaan Passokkorang tidak mungkin aku akan meninggalkan rakyatku dalam keadaan seperti ini.
Permaisuri              :  Kaka’ ada benarnya juga.begini saja kaka’ bagaimana jika kita utus saja putri kita siapa tahu saja putri kita menemukan sosok seorang pendamping di Rantebulahan.
Maradia tie-tie       :  kalau begitu panggilkan Poktowuna kita kemari
Permaisuri              :  Baiklah kaka’
             Permasuri kemudian meninggalakan ruangan menuju kamar Putri Maharani Poktowuna Tidak lama kemudian datanglah permasuri bersama dengan Sang Putri dan seorang dayang.
P. M. Poktowuna  :  ”Ada apa Ayahanda memanggil saya, sepertinya ada hal yang begitu penting.
Mara’dia Tie-tie     :  ”Begini anakku Maharani Poktowuna. Ini ada surat dari kerajaan Rantebulahan yang isinya mengundang ayahandamu ini untuk menghadiri acara kenegaraan di negeri mereka.
P. M. Poktowuna  :  “Terus apa hubungannya dengan saya Puang ??
permaisuriku         : begini anakku tentunya ananda sufdah tahu kondisi kerajaan kita ini. Jadi bagaimana jika ananda saja yang menggantikan ayahandamu menhadiri pertemuan itu.
P. M. Poktowuna  :  tapi bunda aku hanya wanita kenapa  bukan para pejabat kerajaan saja yang ke  Rantebulahan ?
Mara’dia Tie-tie     : “Anakku Maharani Poktomuna, Tie-tie sedang mengalami kemelut perang dengan Passokkoran, saya membutuhkan segala macam daya dan upaya dalam situasi seperti ini, para Pejabat tidak ada yang berpangku tangan, semuanya punya andil penting dalam perang ini.
P. M. Poktowuna  :  “Baiklah ayahanda jika itu amanat yang ayahanda berikan kepadaku aku akan berangkat bersama dayangku.
            

             Maka berangkatlah poktowuna bersama dengan dayangnya ke Rantebulahan untuk menghadiri pertemuannya.
Adegan 2
Pangeran                  : “Yaa…!!! Semoga saja undanganku diterima baik oleh kerajaan Tie-tie, agar aku bisa meminang anaknya yang kecantikannya tersohor  kemana-mana dan dengan menikahi anaknya aku bisa menguasai kerajaan Tie-tie. Huaa.. haa.. haa (tertawa).
Dayang 2                  : (masuk kedalam ruangan) adappangana pangeran, Putri Maharani Poktowuna dari Kerajaan Tie-tie telah tiba didepan gerbang kerajaan.
Pangeran                  : (kegirangan) “kalau begitu suruh dia cepat masuk”
Dayang                      : baiklah Pangeran, tabe’….!!
Pangeran                  : “Akhirnya Putri Maharani telah datang, aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantiknya. Dan sekarang semua keinginanku hampir  tercapai. Ha..ha..ha..
Dayang 2                  : ( masuk keruangan) Adappangana pangeran, ini putri Maharani Poktowuna telah tiba.
Pangeran                  : ( terpukau ) Wow..!!! putri  impianku telah tiba, silahkan masuk putri.
P. M. Poktowuna  :  maaf pangeran, apa  sebenarnya niat pangeran mengundang kerajaan kami kesini, karena saya lihat tidak ada riuh akan adanya acara disini ??
Pangeran                  : Yaa… pertanyaan yang tepat. Sebenarnya aku mengharap ayahmu Mara’dia Tie-tie yang datang kemari, agar aku bisa menyampaikan niatku untuk melamarmu Putri, tapi rupanya nasib baik datang padaku, orang yang aku idam-idamkan datang sendiri kehadapanku.
Putri                           : Ooo.. rupanya itu maksud pangeran,  baiklah pangeran saya akan menerima pinangan pangeran, tapi dengan satu syarat.
Pangeran                  : ”Syaratnya apa putri ?? apapun syarat darimu akan aku kabulkan.”
P. M. Poktowuna  : Begini pangeran saya dengar-dengar di negeri pangeran terdapat air tebu yang sangat manis, konon katanya, Manisnya masih terasa setelah beberapa hari, jika benar demikian aku ingin mencicipinya.
Pangeran                   : “Betul putri, dinegriku memang terdapatair tebu yang sangat manis. Kalau demikian itu keinginan putrid akan aku laksanakan. Dayang……!!!! Dayang……!!!! Hoii… dayang……!!!!
Dayang 2                  : Adappangan pangeran, ada apa pangeran….( datang dengan tergesa-gesa )
Pangeran                  : cepat kamu ambilkan air tebu yang paling manis di negeri ini.
Dayang 2                  : Segera Pangeran….!!!
Pangeran                  : Sabar yaa putri, sebentar lagi pesanan putri akan segera datang.
            
             Tidak berselang lama, dayang pun dating membawa segelas air tebu yang di minta oleh sang putri.
Dayang 2                  : ini putri, air tebunya… silahkan cicipi.
            
             Putri pun meminum air tebu yang disuguhkan, oleh dayang pangeran tetapi sang putrid kecewa setelah mencicipi air tebu tersebut yang ternyata tidak sesuai dengan harapannya.
P. M. Poktowuna  : ini yang pangeran maksud dengan air tebu yang paling manis ??? aku bahkan pernah meminum yang lebih manis daripada air tebu ini. Pangeran pembohong, aku kecewa terhadap pangeran. Kalau begitu, aku permisi pangeran (pulang dengan wajah kesal).
Pangeran                  : (dengan emosi yang meluap),  dayaang…….!!!! Air  tebu apa ini ?? dasar kau tidak berguna, keluar….!!! Sebelum kau kehilangan nyawa.
             Dayang pun lari keluar ruangan dengan terberit-berit karena ketakutan.
Pangeran                  : aku adalah pangeran yang paling di takuti di negriku, dan hari ini aku oleh dipasiri oleh seorang wanita. Jadi sebelum dia sampai kekerajaan tie-tie, aku harus mendapatkannya kembali bagaimana pun caranya. Kalau perlu akan kupenggal kepalanya dan akan kubawa kekerajaanku.
            

             Pangeran pun keluar dan memburu sang putrid dengan niat  untuk memenggal kepalanya, diperjalanan pangeran menemukan putri.
Pangeran                  : Hey…. Tunggu…!!!
             Putri berhenti dan tanpa pikir panjang pangeran langsung memenggal kepala sang putri.
             Melihat sang putri maharani poktowuna meninggal dengan tragis, dayang berlari terbirit-birit pulang ke istana tie-tie dan segera melaporkan kejadian itu kemara’dia tie-tie.
Dayang 1                  : puang… puang…!!!
Mara’dia Tie-tie     : ada apa dayang ?? kenapa kamu terengah-engah begitu ?? mana putriku ??
Dayang 1                  : Anu puang… adappangana Puang pangeran, Rantebulahan telah membunuh putri dengan sadis Puang. Dia memenggal kepala putri puang…!!!
Mara’dia Tie-tie     : (Kaget bercampur marah) Apaa…???!!! Pangeran keparat, aluppas…!!!dimana kamu bersembunyi, kau tidak akan pernah lepas dari kejaranku, meski ujung dunia sekalipun.
             Dengan emosi yang meluap-luap, Mara’dia menuju ke Rantebulahan, berniat menuntut balas atas kematian anaknya. Sesampainya di Rantebulahan.
Mara’dia Tie-tie     : Heyy… dimana kau pangeran keparat, keluar kau.. jangan jadi pengecut, keluar kau kalau kau berani.
             Lama berselang Pangeran dari Rantebulahan tetap tidak kelihatan batang hidungnya, karena emosi yang yang tidak tertahankan, Mara’dia Tie-tie kemudian mengacak-acak Ruangan tersebut, menendang barang-barang sana sini. Hingga akhirnya Pangeran Licik itu menampakkan diri dengan membawa sebuah buntalan putih dengan warna merah di sekitarnya, bekas darah Putri Maharani Poktowuna.
Pangeran                  : ( keluar dengan gaya yang arogan ) Ada apa orang tua, haah… !!
Mara’dia Tie-tie     : dimana Putriku keparat..!! ( nada suara marah )
Pangeran                  : Ini putrimu ( sambil melempar buntalan kearah Mara’dia Tie-tie)
            
             Keduanya mengambil kuda-kuda dan beradu tanding. Perkelahian sengit terjadi diantara mereka, hingga akhirnya pangeran terkapar dengan leher patah dan tewas di tempat.
*selesai*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar