Senin, 30 Juni 2014

Panimbol mandar dalam perhelatan Olahraga Tradisional tingkat Nasional



Olahraga Tradisional “ Panimbol” dari mandar untuk Indonesia
Panimbol mandar


Permainan Tradisional adalah permainan yang tercipta di masa yang lama berlalu, lalu kemudian di mainkan kembali di masa kini dengan menggunakan alat-alat sederhana, seperti bambu, kertas, kayu, dsb. Permainan tradisional sering dipakai sebagai permainan olahraga atau bermain sambil berolahraga. Didaerah mandar sendiri banyak permainan trdisional sebut saja maqgasing,  maqjekka, maqgoliq, maqjekka kaqdaro, maccangkke, maqkalacang mattingko, dan masih banyak lagi. Nah salah satunya dari “masih banyak lagi” itu adalah “Panimbol”.
Sekali lagi saya sebagai anak mandar dengar kata Panimbol itu terasa asing, dan ternyata Panimbol adalah salah satu permainan rakyat mandar dahulu yang kini sudah mulai punah karena tidak pernah lagi dimainkan oleh anak-anak dewasa ini, Panimbol identik sekali dengan olahraga fisik, hampir semua unsur-unsur olahraga fisik yang ada di mandar ada didalam Panimbol ini, didalamnya sarat dengan kontak fisik, adu Strategi, adu mental.
Tata cara permainan ini dimulai dari berlombanya para 5 orang pemain Panimbol menuju ke lapangan memperebutkan 4 buah tongkat kayu berukuran sekitar 1,5 meter, permainan ini dipimpin oleh seorang wasit yang menjaga agar permainan tetap berjalan aman. Setelah tongkat diperebutkan orang terakhir yang tiba otomatis tidak mempunyai tongkat karena yang diperebutkan Cuma 4 buah, 1 orang inilah kemudian yang menjadi “jarinna” (istilah dalam bahasa mandar yang berarti orang yang menjadi bulan-bulanan dalam permainan ).
Apabila didalam permainan terdapat masalah yang kemudian tidak dapat diselesaikan oleh para pemain, wasit kemudian menengahi dengan memberikan permainan yang lain, permainan ini ditujukan agar masalah didalam permainan tersebut dapat di selesaikan yakni dengan adu fisik dengan cara memukul bagian tubuh tertentu, misal paha, perut, bahu dan lain-lain ( tergantung maunya pemain ), apabila pemain yang dipukul kemudian merasa sakit maka pemain yang memukul yang menang, bahasa mandarnya “Panukkuli to dzi anu”, demikian pula sebaliknya apabila dalam kuota pukulan yang diberi tidak bisa membuat sakit orang yang dia dinyatakan kalah. Begitulah kira-kira permainan ini dimainkan.
Bila bermain permainan ini jangan tanya berapa kalori anda yang akan terbakar seluruh tenaga akan terkuras, mental dan fisik anda akan betul-betul “diolahragakan” . mungkin hal inilah yang membuat permainan tradisional ini mulai dilupakan, anak-anak zaman sekarang lebih menyukai permainan modren yang dimainkan tanpa mengeluarkan keringat, seperti Play Station dan permainan Online lain di dunia maya.
Diperhelatan Festival Olahraga Tradisional yang diadakan di mamuju Ibukota Sulawesi Barat beberapa bulan lalu, Permainan ini diikut sertakan, dan yang membawakan adalah Sanggar Raudhatul Abidin Binaan H. Zainal Abidin dari Kec. Mapilli Kab. Polman, Kontingen pilihan dari Polman ini melengsengserkan Kontingen dari Kabupaten lain dengan meraih peringkat pertama dalam ajang tersebut. Memang tidak sia-sia Kanda Sahabuddin mahganna menggarap musik untuk mengiringi para pemain panimbol menjadikan mereka lebih bersemangat dalam mengahadapi kontingen dari Kabupaten lain.
Juara dari ajang Olahraga Tradsional tingkat kabupaten kemudian terpilih mewakili Sulawesi Barat mengikuti Ajang yang lebih besar lagi yakni ditingkat Provinsi, yaa Sekali lagi Permainan ini akan dimainkan dan kali ini diadakan di Jakarta oleh Kementerian Pemudan dan Olahraga, acara ini dikuti oleh seluruh Provinsi yang ada di Indonesia, dihelat pada tanggal 19 sampai dengan 21 Juni 2014.

Berikut adalah foto-foto Kontingen dari mandar Sulbar :

para pemain, pemusik, dan Kru Panimbol mandar

Kontingen Sulbar

Pemain Panimbol

Pemusik Panimbol mandar

bersama Sahabuddin mahganna

menunggu gilaran tampil dalam perhelatan Olahraga Tradisional tingkat Nasional

muh Ulfi mahendra lagi berkeke ria hehehe

Timnas Belanda, eeh Timnas Sulbar maksudnya, hehehe

maju Panimbol