Kamis, 07 Januari 2016

KESALAHAN BERBAHASA MANDAR



 KESALAHAN BERBAHASA MANDAR

Suku Mandar adalah kelompok etnik yang ada di Sulawesi yang mendiami daerah Sulawesi daerah barat, namun kelompok ini juga tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara juga tersebar di beberapa provinsi di luar sulawesi seperti Kalimanatan Selatan, kalimanatan Timur Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Malaysia. Beragam bahasa yang ada di Sulawesi barat (baca: Mandar) mulai dari bahasa Mandar, Pattae’, Pannei’, Pattinjo, Bugis, Kone’-kone’e dan masih banyak bahasa yang saat ini belum diteliti secara mendalam, Namun bahasa Mandar adalah bahasa yang diangkat menjadi bahasa persatuan dalam Konfederasi Sipamanda’ ( Saling menguatkan) Pitu Ulunna Salu-Pitu Ba’bana Binanga anna’ sappulo appe’ Tapparitti’na uwai (Tujuh kerajaan di hulu-Tujuh kerajaan dihilir dan empat belas kerajaan pendukung).
            Namun posisi bahasa Mandar sebagai bahasa persatuan saat ini mulai digantikan dengan bahasa Indonesia karena sejak tahun 1956 seluruh daerah Sulawesi menggabungkan diri kedalam Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI). Program pemerintah Indonesia yang mencanangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dari Sabang sampai ke Merauke mempunyai dampak yang dampak Postifnya antara lain : Sebagai Bahasa Nasional : Bahasa Indonesia sebagai Identitas Nasional, Bahasa Indonesia sebagai Kebanggaan Bangsa, Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, Bahasa Indonesia sebagai Alat pemersatu Bangsa yang berbeda Suku, Agama, ras, adat istiadat dan Budaya.
Pada tanggal 25-28 Februari 1975, Hasil perumusan seminar bahasa Nasional yang diselenggarakan di jakarta. Dikemukakan Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara adalah : Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan, Bahasa Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan, Bahasa Indonesia sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah, Bahasa Indonesia Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan Teknologi.
Akan tetapi selain dampak positif, bahasa Indonesia mempunyai dampak negatif dan ini berimbas kepada penutur bahasa daerah, tidak terkecuali bahasa daerah Mandar. Bahasa Mandar saat ini khususnya untuk daerah perkotaan semakin tahun semakin menyusut penuturnya karena penggunaan bahasa Indonesia semakin meningkat, meskipun demikian asimilasi bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah terjadi hingga menciptakan sebuah bahasa baru yang disebut dengan bahasa prokem, contohnya: silahkan makan menjadi makanki, mau kemana menjadi kemanaki dan lain sebagainya, justru keadaaan ini menjadi sebuah masalah tersendiri karena disisi hakikatnya dia bukan bahasa Indonesia juga bukan merupakan bahasa daerah dan hal ini membuat keberadaan bahasa daerah khususnya bahasa Mandar menjadi terancam terkikis penuturnya, bahkan tidak menutup kemungkinan akan punah. Berawal dari keresahan akan terkikisnya penggunaan bahasa Mandar sehingga saya membuat tulisan ini, semoga dapat sedikit merubah pola pandangan kita orang yang mengaku Mandar terhadap bahasa Mandar.
Di dalam literatur-literatur atau buku-buku yang menuliskan dan menjelaskan tentang Mandar dari berbagai tradisi dan budaya dari sudut pandang tertentu, hanya sedikit yang mengetahui, bahkan ada yang sudah tahu tetapi menutup telinga hingga tetap menggunakan “kacamata kuda” saat melakukan penulisan bahwa apa yang akan dia tuliskan akan “menyesatkan” generasi Mandar kedepannya. Kesalahan berbahasa Mandar yang terjadi saat ini diakibatkan kekeliruan dalam menafsirkan simbol-simbol dalam kepenulisan, dengan berkiblat kepada Seminar dan lain sebagainya hingga 1 kata atau 1 huruf bisa berakibat pada kesalahan pengucapan dan hilangnya identitas bahasa Mandar. 
Kesalahan berbahasa Mandar yang saya maksud adalah semakin tergerusnya Glottal Stop Apostrophe (‘) yang kemudian digantikan dengan /q/ dan hilangnya fonem /dz/.



Gambar 1. Alat Ucap Manusia

Glottal Stop Apostrophe (‘)
Glottal Stop Apostrophe atau hamzah adalah penghentian bunyi dalam celah suara yang menggunakan simbol Apostrophe. Penggunaan glottal stop Apostrophe (‘) sebelumnya memang sudah pernah di Mandar, juga pernah menggunakan huruf “q” dan “k” tapi saat ini banyak yang menggunakan huruf “q” sebagai glottal stop dengan alasan bahwa hasil itu adalah hasil seminar Loka Karya Pembakuan Ejaan Latin Bahasa-bahasa Daerah di Sulawesi Selatan pada 25 – 27 Agustus 1975, ditambah lagi dengan alasan bahwa bahasa inggris saja bisa tulisannya beda dengan pengucapannya.
Namun tinjau dari segi penggunaannya dalam bahasa Mandar, penggunaan glottal stop “k” dan “q” tidak efektif karena penggunaanya dalam sebuah kata menghasilkan pengucapan yang keliru jika dituturkan. Kekeliruan yang terus menerus dilakukan dan akhirnya menjadi sebuah kesalahan. Contohnya Pengucapan kata Lopi Sande’ (perahu Sande’), jika penulisan berdasarkan seminar kebudayaan 1971 yang dipergunakan maka penulisannya akan menjadi Lopi Sandeq. Pengucapan kata sande/q/ tuturannya sama dengan tuturan sande/k/ yang menggunakan glottal stop huruf /k/. Dalam ilmu fonologi (Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa sebagai satuan terkecil dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata) Kata Sande/q/ atau Sande/k/ mempunyai perbedaan yang cukup jelas dengan pengucapan kata Sande/’/. Pada kata Sande/q/ atau Sande/k/  penggalan kata de/q/ atau de/k/ saat dituturkan maka akan bertemu belakang lidah dengan lelangit lembut (lihat gambar 1. Alat Ucap Manusia), jelas berbeda dengan kata Sande/’/ pada penggalan kata de/’/ akan bertemu faring bagian atas dengan anak tekak.
Fonem /dz/. Fonem adalah bunyi bahasa yang berbeda atau mirip kedengarannya, contoh kongkritnya dalam bahasa Indonesia : Ban dan Bank, fonem /k/ yang membedakan ban yang dipakai dikendaraan, dengan bank tempat simpan pinjam uang. Fonem /dz/ adalah fonem serapan dari bahasa arab, karena diketahui semenjak zaman I Daetta Tommuane Mara’dia Balanipa ke-IV, kerajaan Balanipa sudah menjadikan agama Islam sebagai bahasa resminya. Fonem /dz/ diserap dari huruf Hijayyah  ذ (baca dzal) dan inilah yang menjadi identitas Mandar dalam konteks kebahasaan, yang membedakan antara penutur bahasa Mandar dengan penutur bahasa daerah lainnya di Sulawesi tidak terkecuali sepupunya Bugis dan Makassar.
Fonem /dz/ hampir berada dalan setiap percakapan berbahasa Mandar tetapi entah karena apa sehingga fonem /dz/ ini ikut tergerus dalam budaya berbahasa Mandar yang baik dan benar oleh penuturnya, mungkin karenakan pengaruh bahasa tetangganya Bugis, Toraja dan Makassar. Padahal fonem /dz/ inilah yang membedakan kita secara umum dengan penutur bahasa Bugis, bahasa Toraja dan bahasa Makassar yang notabenenya mempunyai kesamaan kosakata yang tipis dengan kita.
Pada bahasa Bugis, Toraja dan Makassar “Kerbau” disebut dengan Tedong, tapi yang sedikit meyentil saya saat ini kita juga ikut-ikutan menyebut Tedong atau Terong dan inilah yang saya sebut dengan kesalahan berbahasa Mandar bahkan fatal menurut saya. Seharusnya penutur bahasa Mandar menggunakan fonem /dz/ bukannya fonem /d/ atau /r/, sehingga pengucapannya menjadi Tedzong (Te/dz/ong), ini juga ditemukan dalam pengucapan kata “di” (bahasa indonesia), Bugis dan Makassar akan menuturkannya “ri” dan lagi-lagi kita ikut-ikutan dengan mereka dengan menyebutnya “ri” atau “di” yang seharusnya adalah dzi (/dz/i). Contoh dalam kata penyebutan gelar I Mayambungi raja pertama kerajaan Balanipa, kita tidak lagi menyebut To Dzilaling tetapi Todilaling bahkan ada yang yang menyebut Torilaling. Contoh lainnya kata yang “aduh” dalam bahasa Mandar, yang seharusnya dituturkan “adzedze” sekarang menjadi “arere” dan “adede” , tetapi bukan berarti bahasa mandar tidak mengenal konsonan “r” hanya saja pada kata-kata yang memang mengharuskannya menggunakan konsonan “r” seperti mararas = pedas, mamarang = haus, marannu = berharap dan sebagainya.
Penggunaan fonem /dz/ memang terkasan agak lebih sulit ketika dituturkan, lebih mudah menuturkan jika itu fonem /d/ atau fonem /r/, tapi bukan berarti harus dihilangkan karena sekecil apapun itu adalah budaya kita sebagai orang Mandar, yang menjadi identitas kemandaran kita dalam konteks bahasa dan membedakan kita dengan sepupu-sepupu bahasa kita di tanah Sulawesi.
Bahasa Mandar saat ini masih perlu kajian-kajian Linguistik, hanya segelintir orang saja yang masih peduli tentang bahasa Mandar. Saya pernah mendapatkan wacana di internet yang redaksinya menyebutkan bahwa bahasa Mandar adalah bahasa yang terancam punah, dengan berat hati saya mengakui hal tersebut karena yang akan membuatnya punah adalah kita sendiri para generasi Mandar. Jadi berbahasa Mandarlah yang baik dan benar.

Minggu, 03 Januari 2016

Anime Kartun Mandar

Kartun Mandar

kartub Mandar

Kartun Mandar

Kartun Mandar

Kartun Mandar

Kartun Mandar

Kartun Mandar

Kartun Mandar

Kartun Mandar

Kartun Mandar

Kartun mandar

Kartun Mandar

Kartun Mandar

Kartun mandar

Kartun mandar

Kartun Mandar

Kartun mandar






Kartun Mandar 01

Kartun Mandar 02